
Ilustrasi kenaikan dolar dan efeknya terhadap pertanian (Sumber: Farmprogress.com)
Oleh:
Cantika Isna Muharramah, Program
Studi Agribisnis, Fakultas
Sains dan Teknologi, Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Nalar Rakyat, Opini - Pasar keuangan domestik di
Indonesia dalam setahun ini terus mengalami guncangan besar akibat tingginya
ketidakpastian global, dampak dari konflik geopolitik di Timur Tengah.
Sementara itu, Amerika Serikat menetapkan kebijakan tarif proteksionisme
agresif. Mata uang AS, dollar, terus merangkak naik hingga menembus level
psikologis baru yang belum pernah terjadi sejak krisis moneter 1997-1998.
Melansir dari data pergerakan kurs dollar-rupiah dari Bank Indonesia (BI)-Jakarta
Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) 2025-2026.
Menoleh kembali pada Juni 2025,
rupiah masih bergerak stabil di kisaran 16.200-16.300 per dollar AS. Namun,
pada Januari awal tahun 2026, rupiah mulai mengalami tekanan besar ke level
16.826 per dollar AS.
Sampai puncaknya, sinyal merah sudah
menyala terang, pada bulan Maret 2026, rupiah kembali menembus dinding terbaru
hingga 17.006 per dollar AS, dan pada bulan Juni 2026 (kondisi terkini) dari Bloomberg
(Grafik Real-Time USD/IDR), rupiah berhasil mendobrak rekor terlemahnya
sepanjang sejarah, dengan nilai tukar 18.179 per dollar AS. Pelemahan rupiah
ini sudah menembus angka di atas 8%.
Angka >18.000 ini tentu sudah menjadi alarm peringatan bahaya yang keras bagi sektor pertanian di Indonesia, dan hal ini dapat dikatakan sebagai pisau bermata dua: menguntungkan dunia ekspor secara samar, sementara mengancam produksi dengan ketergantungan bahan impor yang rawan akan kerugian besar.
Sisi Terang yang Semu: Dunia Ekspor Pertanian
Di atas kertas bisnis, naiknya nilai
tukar dollar tentu disambut dengan senyum sumringah oleh para pelaku ekspor.
Logika ekonominya sederhana: barang menjadi lebih murah di pasar internasional,
sementara devisa berbentuk dollar yang dibawa pulang akan memiliki nilai
berlipat ganda saat dikonversi ke rupiah. Hal ini diperkuat oleh data Badan
Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kinerja ekspor pertanian dan perkebunan
olahan kita tetap menjadi motor utama penggerak neraca perdagangan non-migas.
Meskipun ekspor non-migas Indonesia
secara umum tumbuh, sektor pertanian murni (tanaman pangan dan perkebunan
rakyat) justru tetap mengalami tekanan imbas dari cuaca ekstrem dan dinamika
pasar yang tidak menentu. Sektor pertanian nini juga terus mengalami fluktuatif
menurun. Di tengah kondisi yang tidak pasti ini, komoditas raksasa seperti
lemak dan minyak hewani serta nabati termasuk Crude Palm Oil (CPO) dan
produk turunannya, tetap menjadi raksasa penggenggam utama sisi ekspor. Menurut
BPS - Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri Ekspor Menurut Komoditas,
komoditas ini berhasil mencapai pertumbuhan nilai yang sangat menakjubkan,
yakni mencapai 18,80% pada awal tahun 2026.
Sektor hortikultura seperti
buah-buahan musim tahunan juga berhasil mencatat volume bersih terbesar di awal
tahun. Berdasarkan data BPS - Statistik Tanaman Buah dan Sayuran Indonesia,
menunjukkan bahwa kontribusi ekspor buah-buahan menyumbang porsi besar (sekitar
14,79%) terhadap total ekspor pertanian tanaman tahunan Indonesia per Februari
2026, dengan manggis dan nanas sebagai komoditas terbesar.
Pada lini lain, Perkebunan rakyat
dengan berbagai komoditas seperti kopi, teh, dan rempah-rempah juga menunjukkan
angka yang naik secara signifikan. Data BPS dari pencatatan PEB (Pemberitahuan
Ekspor Barang), menunjukkan lini ini memiliki lonjakan tajam sebesar 54,44%
pada triwulan pertama tahun 2026. Meski rentan terkena koreksi harga global,
namun hal tersebut juga membuktikan bahwa produk eksotis tanah air masih sangat
diburu oleh pasar dunia.
Di pasar global, wilayah-wilayah yang membeli dan menikmati hasil pertanian Indonesia masih didominasi oleh negara mitra dagang. Negara dengan penerima ekspor non-migas Indonesia saat ini dipimpin oleh Amerika Serikat yang menyerap sekitar 11,6%, oleh Tiongkok sebesar 10%, Jepang sebesar 9,9%, dan India di angka 8,8%. Sementara itu, wilayah regional ASEAN secara kolektif menyumbang porsi sebesar 13,26% dari total pengiriman.
Anomali Lapangan dan Jeratan Biaya Logistik
Lonjakan dollar secara otomatis melempar harga jual jika dikonversi ke dalam satuan Rupiah di tingkat eksportir. Para eksportir sepintas tampak berjaya, menikmati keuntungan nominal yang berlipat ganda karena nilai rupiah yang terjun bebas. Namun, di sinilah letak keganjilan yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Margin keuntungan melimpah yang baru saja dinikmati para eksportir tersebut langsung "terbakar" habis tak tersisa oleh lonjakan biaya logistik perkapalan internasional. Hampir seluruh biaya sewa kontainer dan perkapalan global dipatok menggunakan mata uang dollar AS. Akibatnya, biaya operasional ekspor membengkak, menyedot habis tambahan pendapatan yang diperoleh dari selisih kurs tersebut. Eksportir lokal dipaksa gigit jari di tengah laporan angka-angka pertumbuhan ekspor yang tampak mentereng di atas kertas.
Inti Masalah: Ketergantungan Struktural Akut pada Impor
Sisi ganda yang bersimpangan menjadi
benang merah dalam hal ini yang bersumber dari titik krusial. Ketergantungan
Indonesia yang teramat tinggi terhadap beberapa komoditas, terhadap bahan pokok
pertanian, serta input produksi dari luar negeri. Saat dollar melonjak hingga
menyentuh 18.000, biaya untuk mendatangkan dan mendapatkan bahan-bahan
kebutuhan ini otomatis melonjak drastis dalam kurs rupiah.
Disinilah letak ketimpangan dalam
ekspor-impor dunia pertanian. Kasus yang paling mencolok adalah fakta bahwa
komoditas serealia seperti gandum (biji gandum dan meslin) di Indonesia
mencatat angka ketergantungan impor sebesar 100%. Hal ini didasarkan pada
pernyataan agronomis resmi yang dirilis oleh Kementerian Pertanian dan
Kementerian Perdagangan. Ketergantungan penuh ini disebabkan karena gandum
merupakan bahan baku utama bagi makanan harian masyarakat, mulai dari mi
instan, roti, hingga tepung terigu untuk industri rumahan. Berdasarkan laporan
Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor serealia (HS 10) melonjak tajam hingga
mencapai positif 37,53% secara tahunan (YoY).
Kondisi yang tidak kalah memilukan
juga terjadi pada komoditas kedelai. Indonesia setiap tahunnya harus mengimpor
sekitar 2,5 juta ton hingga 2,68 juta ton kedelai untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi dalam negeri. Angka ini kontras dengan kemampuan produksi petani lokal
yang hanya sanggup menyuplai kisaran 300 ribu ton per tahun. Produsen berada di
posisi dilematis: menaikkan harga akan ditinggal pembeli, tidak menaikkan harga
berarti gulung tikar.
Kerentanan yang sangat mendasar juga mengintai sektor input produksi. Indonesia memang memiliki pabrik-pabrik pupuk besar di dalam negeri yang memproduksi pupuk bagi jutaan petani. Namun, sering kali melupakan fakta bahwa bahan baku kimia utama untuk pembuatan pupuk tersebut, seperti fosfat dan kalium, wajib diimpor secara total karena ketiadaan sumber daya alam tersebut di Indonesia. Ketika dollar meroket, biaya produksi pupuk domestik ikut terkerek naik, yang pada akhirnya akan membebani kantong petani. Kontradiksi terbesar dari situasi ini tercermin pada kesepakatan bilateral oleh Kementerian Perdagangan RI dengan Badan Pangan Nasional, salah satunya adalah komitmen impor kedelai sebesar 3,5 juta ton dari Amerika Serikat.
Menata Strategi Pangan Nasional
Pada akhirnya, lonjakan dollar dan
pelemahan rupiah mengirimkan pesan kepada kita semua bahwa kita tidak bisa
mentoleransi ketimpangan struktural ini terus menerus. Menjadikan pertanian
sebagai ladang ekspor berburu dollar tanpa memikirkan sisi impor adalah jalan
yang rapuh. Sudah saatnya pemerintah berhenti memberikan janji manis swasembada
yang tidak menyentuh realita. Mulailah eksekusi yang nyata: substitusi bahan
baku lokal, penguatan industri pupuk nasional, dan mendorong diversifikasi
pangan lokal secara massif.
Jika tidak, kedaulatan pangan dan mata uang kita akan terus dirundung oleh valuta asing, petani Indonesia akan menjadi penonton malang di tengah megahnya pesta pora devisa negara.