![]() |
| Bung Christo Inuhan |
Oleh: Bung Christo Inuhan, Mahasiswa asal Kei, Maluku Tenggara di Jakarta.
Nalar Rakyat, Opini - Ada rasa sedih yang sulit digambarkan ketika mendengar pertikaian yang kerap terjadi di tanah Kei, sementara raga berada jauh di perantauan. Sebagai orang Kei yang meninggalkan Tanah Kei untuk menggali ilmu di jakarta, kabar pertikaian, perkelahian dan kekerasan tentunya bukan sekadar informasi semata, melainkan sebuah goresan mendalam terhadap harapan besar kepada tanah Kei dan generasinya.
Dari dalam hati yg sedih muncul pertanyaan, mengapa setiap gesekan yang seharusnya dapat diselesaikan secara kekeluargaan melalui komunikasi, malah ditempu dengan kekerasan? Apakah falsafah "Ain Ni Ain" Tidak lagi berarti bagi kita semua generasi muda Kei? Sampai kapan Tanah Kei yang indah harus dibayangi dengan kekerasan yang menghilangkan rasa aman bagi masyarakat dan pendatang?
Pertikaian Ditengah Momen Euforia Daerah
Di Bulan Oktober ini, goresan demi goresan datang melalui kabar pertikaian, perkelahian, atau kekerasan yang terjadi di tanah Kei. Beberapa waktu lalu di bulan yang sama terjadi rangkaian pertikaian antar pelajar atau antar pemuda di seputaran pasar Langgur, kemudian tepat 23 Oktober 2026, terjadi lagi pertikaian antar dua kelompok Pemuda, yakni pemuda Ohoijang dan Watdek yang belum jelas motifnya. Padahal, di bulan Oktober ini ada agenda Tahunan daerah, yakni "Festival Pesona Meti Kei" Yang puncak acaranya tepat tanggal 24 Oktober 2026.
Sayang sekali, agenda tahunan daerah "Festival Pesona Meti Kei" Yang seharusnya menjadi momen euforia sekaligus wadah pelestarian budaya dan Tradisi Lokal, mengenalkan Keindahan Alam, dan Memperkuat Prinsip Maren di tanah Kei, justru dinodai dengan pertikaian-pertikaian ini. Padahal agenda daerah seperti ini, dapat dijadikan sebagai momentum anak muda Kei untuk mengambil peran dalam pembangunan daerah dan pelestarian budaya ditengah dekulturasi adat Kei.
Tanpa menafikan motif dari pertikaian-pertikaian di atas, namun sebagai generasi yang tumbuh dan hidup dalam daerah yang mengedepankan persaudaraan, ketika tidak mendahului penyelesaian secara kekeluargaan dan memilih menempuh jalur kekerasan, ini membuka kemungkinan adanya kegagalan pemerintah daerah dan pemangku adat dalam menanamkan nilai-nilai adat dan/atau kegagalan kita sebagai anak muda daerah dalam memaknai nilai-nilai persaudaraan di tanah Kei.
Ketika Nilai dan Norma adat Kehilangan tempat
Sebagai Masyarakat Adat, nilai-nilai dan norma-norma adat merupakan bagian yang seharusnya dipegang dalam hati dan dihadirkan dalam tindakan. Untuk masyarakat adat Kei, salah satunya Falsafah Ain ni Ain, yang berarti "Satu punya satu" Atau "Saling memiliki" Dalam persaudaraan dan kekeluargaan. Tak hanya itu, Ain ni Ain bermakna persaudaraan tanpa batas, solidaritas dan maren, serta pemersatu kerukunan.
Arti dan maknanya sungguh indah bukan? Tapi apakah indahnya betul-betul hadir dan terlihat dalam masyarakat Kei hari ini berkaca dari peristiwa-peristiwa tersebut? Apakah pertikaian yang terjadi di Kei menggambarkan makna Ain ni Ain? Jawabannya singkat dan mutlak, Tidak!!
Falsafah Ain ni Ain kehilangan tempat hampir sepenuhnya di masyarakat kita, padahal pada dimensi lain kita selalu dengan bangga menyebut bahwa "Beta Kei, Ain Ni Ain Harga mati" atau " It Besa Ain ni Ain", dimana pengejawantahannya? Mungkin lebih nyata "Beta Kei, Ain Ni Ain hampir mati" Atau "It Besa Ain Sitan Ain".
Suara harapan dari Perauntauan untuk Tanah Kei
Tidak ada yang patut disalahkan secara mutlak atas pertikaian yang terjadi dan hilangnya Falsafah Ain ni Ain dalam masyarakat. Namun sebagai anak adat dari Kei, tentunya harapan akan pelestarian adat istiadat yang telah diwariskan oleh pendahulu sebagai obat pencegah dan penyelesaian masalah sosial masyarakat, merupakan fokus utama yang harus ditindaklanjuti secara maksimal.
Dalam melestarikan adat istiadat ini, tentu tak hanya dapat dilaksanakan oleh satu pihak saja. Maka penting kolaborasi dan sinergitas dari pemerintah daerah, pemangku adat, tokoh agama, dan seluruh pemuda Kei. Ada banyak cara yang sebetulnya dapat dilakukan, namun ada satu rangkaian langkah sederhana yang sebetulnya berdasarkan pandangan saya kurang terjadi namun punya manfaat yang besar, yakni keterlibatan Pemuda dalam agenda atau upacara adat. Ini penting, karena dengan terlibatnya generasi muda dalam upacara adat, maka ajaran-ajaran, nilai-nilai, dan norma adat akan disadari, diserapi, dan dipedomani betul oleh generasi muda.
Pada Akhirnya, kita tentu berharap bahwa Ain ni Ain tak hanya hadir lewat ucapan, melainkan harus hadir dalam dalam cara kita memperlakukan sesama, menyelesaikan perselisihan, dan menjaga kedamaian di tanah kelahiran sendiri.
Tabe Hormat.
