GUd9GUWiGpG9GUW9TUA9TfdlTA==
Light Dark
Mengapa HPT Muhammadiyah yang Kelihatan "Kaku" Justru Bisa Jadi Obat Overthinking Terbaik

Mengapa HPT Muhammadiyah yang Kelihatan "Kaku" Justru Bisa Jadi Obat Overthinking Terbaik

Daftar Isi
×
Umi Margiati. (Foto: AI). 
Suara Time, Kolom - Zaman sekarang, sambat soal kesehatan mental sudah jadi olahraga nasional bagi Gen Z dan Milenial. Sedikit-sedikit merasa burnout, dikit-dikit butuh healing ke Bali, atau minimal langganan aplikasi meditasi premium biar pikiran tenang. Pokoknya, segala cara dicoba demi mengusir yang namanya overthinking.

Padahal, kalau mau menengok sebentar ke ritual keagamaan yang kita lakukan sehari-hari, ada coping mechanism gratis tingkat dewa yang sering kita sepelekan.

Bagi warga Muhammadiyah, pasti sudah tidak asing dengan Himpunan Putusan Tarjih (HPT). Di mata orang luar—atau bahkan sebagian anak muda Muhammadiyah sendiri—HPT sering dianggap sebagai buku aturan yang tebal, kaku, dan isinya cuma soal fatwa "boleh atau tidak boleh". Isinya berkutat di seputar tata cara salat yang benar, penentuan awal Ramadan, atau hukum zakat.

Namun, kalau kita bedah memakai kacamata psikologi modern, HPT ini sebenarnya bukan cuma sekadar buku fikih. Isinya adalah panduan surviving di tengah dunia yang makin gila ini.

Mari kita bedah kenapa aturan-aturan di HPT Muhammadiyah itu justru bisa bikin mental kita lebih sehat dan stabil.

Bukan Sekadar Buku Aturan, tapi SOP Kehidupan

Banyak yang mengira HPT hanya mengurusi wilayah privat antara hamba dan Tuhan. Padahal, kalau dibaca lagi, HPT juga membahas etika bisnis, ekonomi islami, hingga bagaimana mengelola konflik dalam keluarga. Pendeknya, HPT itu mirip SOP (Standard Operating Procedure) kehidupan.

Menariknya, HPT punya tiga jimat utama: murni, rasional, dan moderat. Sifat "rasional" inilah yang paling seksi kalau dikaitkan dengan psikologi. HPT tidak pernah menyuruh orang untuk "pokoknya manut tanpa mikir". Semua keputusan ada argumen logis dan ilmiahnya. Di zaman di mana hoaks dan disinformasi bikin kepala mau pecah, panduan yang rasional seperti ini adalah penyelamat kewarasan.

Ketika Ibadah Menjelma Menjadi "Gym Mental" 

Dalam psikologi, kesehatan mental tidak datang tiba-tiba lewat self-reward beli kopi susu literan. Mental yang sehat dibentuk lewat struktur dan kebiasaan. Nah, HPT memfasilitasi itu semua lewat empat jalur:

Pertama, melatih otak agar tidak gampang "fomo" dan ikut-ikutan. Karena HPT membiasakan warganya memahami agama lewat dalil yang masuk akal, secara tidak langsung otak kita dilatih untuk berpikir kritis. Kita tidak gampang ikut-ikutan tren yang tidak jelas ujung pangkalnya. Dalam psikologi kognitif, ini adalah bentuk cognitive restructuring—kemampuan menata ulang cara berpikir agar tidak gampang cemas.

Kedua, salat dan puasa sebagai "Habit Loop". Salat lima waktu yang polanya ajek setiap hari itu sebenarnya adalah latihan disiplin tingkat tinggi. Begitu juga dengan puasa. Di psikologi, ini disebut latihan emotional regulation dan kontrol diri. Orang yang terbiasa menahan lapar dan menjaga lisan saat puasa, mentalnya akan lebih tangguh saat menghadapi tekanan dunia kerja atau drama pertemanan.

Ketiga, membentuk karakter, bukan sekadar topeng. Nilai kesederhanaan dan tanggung jawab dalam HPT kalau dijalankan terus-menerus akan berubah dari yang awalnya "kewajiban dari luar" menjadi "identitas diri". Kamu tidak perlu pura-pura jadi orang baik demi konten, karena nilai itu sudah meresap di dalam kepribadianmu.

Keempat, punya Support System premium. Manusia itu makhluk sosial. Ketika satu komunitas mempraktikkan nilai dan ritual yang sama (misalnya saf salat yang rapi, tarawih bersama, atau gerakan sosial Muhammadiyah), muncul rasa aman karena merasa memiliki kelompok. Rasa kesepian yang jadi akar banyak masalah mental anak muda langsung luntur di sini.

Kompas di Tengah Badai Informasi

Anak muda zaman sekarang sering mengalami krisis identitas karena dihantam jutaan informasi tiap detik di media sosial. Di sinilah HPT hadir bukan sebagai pengekang, melainkan sebagai kompas. Bahasanya sistematis, terbuka pada perkembangan zaman, tapi tetap punya pegangan nilai yang kokoh.

Tentu saja, rajin baca HPT tidak otomatis membuatmu bebas dari gangguan kecemasan secara ajaib. Namun, jika dipahami dengan kesadaran penuh (mindfulness), pedoman keagamaan ini menawarkan ketenangan dan struktur hidup yang dicari-cari oleh banyak orang lewat jalur healing yang mahal itu.

Akhir kata, agama dan psikologi itu bukan musuh yang saling sikut. Agama memberikan arah dan kompas kehidupan, sementara psikologi membantu kita memahami bagaimana kompas itu bekerja di dalam isi kepala kita. Jadi, daripada pusing memikirkan biaya terapi yang mahal, mungkin sudah saatnya kita buka lagi HPT dan mulai merapikan saf salat kita.


Penulis:

Mahasiswa Program Studi Magister Psikologi Universitas Ahmad Dahlan. Kaum pencari ketenangan jiwa yang sedang hobi mengulik irisan antara kesehatan mental dan nilai-nilai keagamaan. Bisa ditemui sedang melamun di pojokan perpustakaan atau kedai kopi lokal.