| Universitas Terbuka Perkuat Pembelajaran Geografi Berbasis Praktik lewat Pelatihan Drone Mapping dan Analisis Mangrove di Indramayu |
Indramayu, 23 Mei 2026 — Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran geografi
terus dilakukan melalui penguatan kompetensi guru. Salah satunya diwujudkan
Universitas Terbuka melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema
“Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Geografi Indramayu untuk Praktik Drone
for Mapping dan Teknik Analisis Vegetasi Mangrove.” Kegiatan ini
melibatkan guru-guru geografi Kabupaten Indramayu sebagai peserta pelatihan.
Pelatihan dilaksanakan selama dua hari, dengan jadwal kegiatan mulai pukul
09.00 hingga 16.00 WIB setiap harinya. Sebanyak 21 peserta mengikuti rangkaian
kegiatan yang memadukan penyampaian materi, praktik teknologi pemetaan,
observasi lapangan, dan analisis lingkungan pesisir. Melalui kegiatan ini, para
guru diharapkan memperoleh pengalaman langsung yang dapat diterapkan dalam
pembelajaran di sekolah.
Pada hari pertama, kegiatan berlangsung di SMA Negeri 1 Indramayu. Lokasi
ini dipilih karena berada di wilayah pusat kegiatan Kabupaten Indramayu dan
dinilai strategis untuk mendukung pelaksanaan pelatihan. Sesi pertama
difokuskan pada pengenalan dan praktik penggunaan drone for mapping sebagai
salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran geografi.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari Universitas Terbuka, yaitu
Dr. Sodikin dari Magister Studi Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas
Terbuka, dan Mirza Permana, S.T., M.Si. dari Program Studi Perencanaan Wilayah
dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka. Keduanya
menyampaikan materi yang menekankan pentingnya pembelajaran geografi berbasis
data, teknologi, dan pengalaman lapangan.
Dalam sesi drone mapping, peserta mendapatkan penjelasan mengenai peran
drone dalam mendukung kegiatan pemetaan, pengamatan wilayah, dokumentasi
bentang alam, dan pengumpulan data spasial. Teknologi ini dinilai sangat
relevan untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap materi geografi, terutama
pada topik peta, penginderaan jauh, penggunaan lahan, kondisi lingkungan, serta
dinamika wilayah.
Para guru tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diberi
kesempatan untuk melakukan praktik langsung. Peserta mencoba memahami prosedur
penggunaan drone, teknik pengambilan gambar udara, serta cara memanfaatkan data
visual yang dihasilkan sebagai bahan pembelajaran. Selain itu, peserta juga
diperkenalkan dengan penggunaan perangkat lunak khusus untuk mengolah foto
udara hasil drone menjadi informasi yang lebih mudah dianalisis.
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh pengawas sekolah, Drs. Heru Subandono,
M.Pd, serta Ketua MGMP Geografi Kabupaten Indramayu, Asep Andri Astiyandi,
M.Pd. Dalam sambutannya keduanya menyampaikan apresiasi kepada Universitas
Terbuka yang telah menjalin kerja sama dengan MGMP Geografi Indramayu. Ia mengucapkan terima
kasih karena MGMP Geografi Indramayu dipercaya menjadi mitra dalam kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini. Ia juga berharap kerja sama tersebut dapat
terus dilanjutkan pada program-program berikutnya.
Memasuki
hari kedua, pelatihan dilanjutkan dengan kegiatan praktik lapangan bertema
teknik analisis vegetasi mangrove. Kegiatan ini dilaksanakan di
kawasan Kedung Coet, Desa Cemara, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu. Untuk
mencapai lokasi tersebut, peserta bersama tim pengabdian masyarakat Universitas
Terbuka menempuh perjalanan menggunakan perahu selama kurang lebih satu
setengah jam.
Perjalanan menuju lokasi menjadi pengalaman penting bagi peserta karena
mereka dapat melihat secara langsung kondisi geografis wilayah pesisir
Indramayu. Kawasan mangrove yang menjadi lokasi observasi memberikan ruang
belajar nyata bagi guru untuk memahami keterkaitan antara ekosistem, kondisi
fisik wilayah, aktivitas manusia, dan pentingnya pelestarian lingkungan.
Setibanya di lokasi, peserta dibagi menjadi tiga kelompok besar. Setiap
kelompok mengikuti kegiatan secara bergiliran di tiga pos pembelajaran yang
telah disiapkan oleh tim pengabdian masyarakat Universitas Terbuka. Pola
kegiatan ini dirancang agar seluruh peserta memperoleh pengalaman belajar yang
sama, baik dalam pengenalan vegetasi, praktik pengukuran, maupun penggunaan
alat lapangan.
Pada pos pertama, peserta memperoleh materi mengenai pengenalan jenis-jenis
vegetasi mangrove yang ditemukan di wilayah studi. Melalui sesi ini, guru
diajak memahami karakteristik tumbuhan mangrove, perbedaan jenis vegetasi,
serta fungsi mangrove dalam menjaga ekosistem pesisir. Pengetahuan ini penting
untuk memperkaya materi pembelajaran mengenai lingkungan hidup dan konservasi.
Pada pos kedua, peserta melakukan praktik pengukuran vegetasi mangrove dengan
menggunakan metode transek line. Melalui metode ini, peserta belajar melakukan
pengamatan secara sistematis, mengumpulkan data lapangan, serta memahami cara
sederhana menganalisis kondisi vegetasi mangrove. Keterampilan ini dapat
menjadi bekal bagi guru untuk membimbing siswa dalam kegiatan observasi atau
penelitian sederhana di lingkungan sekitar.
Sementara itu, pada pos ketiga, peserta mendapatkan praktik penggunaan
waterpass dalam penelitian mangrove. Materi ini memperkenalkan peserta pada
teknik pengukuran lapangan yang dapat mendukung analisis kondisi fisik
lingkungan. Dengan memahami penggunaan alat tersebut, guru dapat memperluas
variasi kegiatan praktik dalam pembelajaran geografi.
Kegiatan
pelatihan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan teknis guru,
tetapi juga diarahkan untuk mendukung terciptanya pembelajaran yang berdampak.
Melalui pengalaman menggunakan drone dan melakukan analisis vegetasi mangrove,
guru memiliki bekal untuk menghadirkan pembelajaran geografi yang lebih nyata,
menarik, dan dekat dengan kehidupan siswa.
Dalam
konteks pembelajaran, drone mapping dapat digunakan untuk membantu siswa
memahami konsep ruang, pola wilayah, citra udara, serta perubahan lingkungan
secara visual. Siswa dapat diajak menganalisis foto udara,
mengidentifikasi penggunaan lahan, membandingkan kondisi wilayah, dan memahami
hubungan antara manusia dengan lingkungan. Dengan demikian, pembelajaran
geografi tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga terhubung dengan
fenomena nyata di sekitar mereka.
Sementara itu, praktik analisis vegetasi mangrove dapat dikembangkan
menjadi pembelajaran berbasis proyek dan observasi lapangan. Guru dapat
mengajak siswa mengenal ekosistem pesisir, memahami fungsi mangrove dalam
mencegah abrasi, mengamati keanekaragaman vegetasi, serta mendiskusikan
pentingnya konservasi lingkungan. Kegiatan seperti ini dapat menumbuhkan
kepedulian siswa terhadap lingkungan lokal, khususnya wilayah pesisir
Indramayu.
Materi yang diberikan dalam kegiatan ini dinilai relevan dengan kurikulum
pembelajaran geografi di SMA. Integrasi antara teknologi drone, analisis
spasial, pengamatan vegetasi mangrove, dan praktik lapangan dapat membantu guru
merancang bahan ajar yang lebih kontekstual. Guru juga dapat mengembangkan
lembar kerja peserta didik, proyek lingkungan, peta sederhana, hingga kegiatan
penelitian kecil berbasis potensi lokal.
Dengan adanya pelatihan ini, Universitas Terbuka menunjukkan komitmennya
dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui pemberdayaan guru.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan mampu memberikan dampak
berkelanjutan, baik bagi guru sebagai pendidik maupun bagi siswa sebagai
penerima manfaat pembelajaran.
Ke depan, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh guru dalam pelatihan
ini diharapkan dapat diimplementasikan di sekolah masing-masing. Dengan
demikian, pembelajaran geografi dapat berkembang menjadi lebih inovatif,
aplikatif, dan bermakna. Kolaborasi antara Universitas Terbuka dan MGMP
Geografi Indramayu juga diharapkan terus berlanjut sebagai bagian dari upaya
bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan dan membangun kepedulian terhadap
lingkungan.