![]() |
| Uwais Thoriq Nabhan, Presiden Mahasiswa STIE GICI Business School 2024–2025, Pemuda Kota Bogor, investor pasar modal, sekaligus pengusaha muda. (Foto: Dok/Ist). |
Kondisi tersebut menuai sorotan tajam dari Uwais Thoriq Nabhan, Presiden Mahasiswa STIE GICI Business School 2024–2025, Pemuda Kota Bogor, investor pasar modal, sekaligus pengusaha muda. Menurutnya, pelemahan rupiah tidak bisa lagi dibaca secara sempit sebagai fenomena eksternal atau sekadar penguatan dolar AS global, melainkan refleksi dari akumulasi persoalan struktural ekonomi Indonesia sendiri.
“Masalah kita bukan sekadar dollar yang menguat. Masalah sebenarnya adalah pasar mulai mempertanyakan kredibilitas fiskal, arah kebijakan ekonomi, independensi institusi, hingga kemampuan negara menjaga stabilitas jangka panjang. Rupiah tidak jatuh begitu saja,” ujar Uwais.
Ia menilai pemerintah terlalu sering menggunakan narasi “fundamental ekonomi masih kuat” tanpa menjawab kegelisahan utama pasar dan masyarakat. Padahal, menurutnya, pasar keuangan bergerak bukan berdasarkan slogan optimisme, tetapi berdasarkan ekspektasi, kredibilitas kebijakan, dan persepsi risiko.
Uwais Thoriq Nabhan menuturkan pelemahan ini tidak berdiri sendiri. Beberapa bulan terakhir, IHSG mengalami tekanan cukup besar, sementara investor asing tercatat terus mengurangi kepemilikan aset domestik. Data Bank Indonesia menunjukkan kepemilikan asing pada obligasi pemerintah turun dari sekitar Rp878 triliun pada awal tahun menjadi sekitar Rp858 triliun pada April 2026. Proporsi kepemilikan asing di Surat Berharga Negara juga terus menurun.
Yang mana di sisi lain, intervensi Bank Indonesia disebut semakin agresif dengan mengakui cadangan devisa yang telah terkuras sekitar 10 miliar dolar AS sepanjang tahun demi menjaga stabilitas rupiah.
“Kalau bank sentral harus terus membakar devisa untuk mempertahankan nilai tukar, itu artinya pasar belum benar-benar percaya tekanan ini bersifat sementara. Intervensi moneter hanya membeli sedikit waktu, bukan menyelesaikan akar persoalan,” kata Uwais.
Sebagai investor pasar modal, Uwais menilai pasar saat ini sedang membaca adanya ketidakseimbangan serius dalam desain fiskal pemerintah. Ia menyoroti membengkaknya beban subsidi, ekspansi belanja negara yang agresif, ketidakjelasan efektivitas sejumlah program populis, serta ketergantungan pembiayaan terhadap utang dan pasar obligasi.
“Kita sedang menghadapi situasi di mana negara ingin terus ekspansif secara fiskal, tetapi di saat yang sama ruang fiskalnya semakin sempit. APBN dipaksa menopang terlalu banyak hal sekaligus, sementara produktivitas ekonomi riil tidak tumbuh secepat beban yang ditanggung,” ujarnya.
Menurut Uwais, pasar tidak hanya melihat angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas pertumbuhan tersebut. Ia menyebut Indonesia masih terlalu bergantung pada ekonomi berbasis konsumsi dan komoditas, sementara fondasi industrialisasi bernilai tambah tinggi belum cukup kuat.
“Kita terlalu lama membangun ekonomi yang bergantung pada konsumsi domestik, komoditas mentah, dan siklus harga global. Ketika sentimen global berubah, kita langsung rapuh. Ini menunjukkan struktur ekonomi kita belum benar-benar resilien,” katanya.
Uwais Nabhan turut menanggapi pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dollar sehingga pelemahan rupiah tidak terlalu berdampak langsung bagi mereka. Pernyataan tersebut, menurutnya, menunjukkan cara pandang yang terlalu menyederhanakan mekanisme ekonomi modern.
“Itu logical fallacy yang sangat berbahaya jika keluar dari seorang kepala negara. Masyarakat desa memang tidak transaksi pakai dollar, tetapi pupuk, BBM, obat-obatan, gandum, kedelai, alat produksi, hingga biaya logistik sangat dipengaruhi kurs dollar. Pelemahan rupiah itu merembes ke seluruh rantai ekonomi,” tegas Uwais.
Ia menjelaskan bahwa depresiasi rupiah akan meningkatkan biaya impor, menekan margin industri, memicu imported inflation, dan pada akhirnya menurunkan daya beli masyarakat secara luas. “Rakyat mungkin tidak pegang dollar, tapi mereka membeli barang yang harga pokoknya bergantung pada dollar. Jadi ketika rupiah melemah, yang paling dulu merasakan justru masyarakat bawah,” lanjutnya.
Menurut Uwais Thoriq, pelemahan rupiah bukan hanya isu pasar keuangan elit, melainkan persoalan nyata yang akan dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha. Ia menyebut dampaknya akan menjalar ke kenaikan harga pangan impor dan bahan baku, tekanan terhadap UMKM, kenaikan biaya logistik dan produksi, potensi inflasi energi, penurunan daya beli masyarakat, meningkatnya biaya pendidikan dan kesehatan, serta ancaman PHK jika industri mulai menekan biaya operasional.
“Kalau kurs terus melemah sementara suku bunga tinggi dipertahankan untuk menjaga rupiah, maka dunia usaha juga tertekan. Konsumsi melemah, biaya naik, investasi tertahan. Itu efek berantai,” ujarnya.
“Juga, untuk pasar global hari ini tidak hanya membeli pertumbuhan, tapi membeli kepercayaan. Ketika negara terlihat terlalu politis dalam mengelola ekonomi, terlalu populis dalam fiskal, dan terlalu ambigu dalam arah kebijakan, maka pasar akan meminta premi risiko lebih tinggi. Rupiah akhirnya menjadi korban pertama,” katanya.
Meski kritis, Uwais menegaskan bahwa solusi persoalan rupiah tidak cukup hanya melalui intervensi jangka pendek Bank Indonesia. Ia mendorong pemerintah melakukan reformasi ekonomi yang lebih struktural, antara lain memperkuat industri bernilai tambah, mengurangi ketergantungan impor strategis, meningkatkan kualitas ekspor, memperbaiki disiplin fiskal, memperkuat kepastian hukum dan regulasi, serta membangun kepercayaan pasar melalui tata kelola yang transparan dan kredibel.
Menurutnya, negara juga harus mulai berani mengevaluasi model pembangunan yang terlalu bertumpu pada eksploitasi sumber daya dan utang jangka panjang.
“Ekonomi tidak bisa terus ditopang oleh optimisme pidato dan intervensi sementara. Yang dibutuhkan pasar adalah arah kebijakan yang jelas, disiplin fiskal yang sehat, dan fondasi ekonomi yang benar-benar produktif. Kalau tidak, kita hanya akan terus sibuk memadamkan gejala tanpa menyembuhkan penyakitnya,” pungkas Uwais.
