![]() |
| Ilustrasi - (Sumber: AI). |
Setiap musim hujan tiba,. Surabaya, dengan ketinggian
rata-rata hanya 3–6 meter di atas permukaan laut, memang rentan terhadap
genangan. Kerentanan ini sejatinya bisa ditekan bila penanganannya tidak lagi
sekadar menunggu banjir datang, lalu bergerak — melainkan direncanakan jauh
sebelum air naik.
"Penanganan banjir yang baik bukan hanya soal membangun tanggul atau memperlebar drainase. Ia adalah soal membangun masyarakat yang siap, bergerak bersama, dan tidak ada yang tertinggal."
Mengapa Pancasila relevan untuk
urusan banjir?
Pertanyaan ini mungkin terdengar janggal. Apa hubungan
ideologi negara dengan genangan air di jalan kampung? Jawabannya: sangat erat.
Pancasila bukan hanya teks di lembar pembukaan UUD, melainkan panduan nilai yang
mengatur cara kita hidup bersama — termasuk dalam menghadapi bencana.
Sila Ketiga mendorong gotong royong dan solidaritas antarwarga. Sila Keempat menuntut pengambilan keputusan yang partisipatif dan musyawarah. Sila Kelima mengamanatkan bahwa manfaat kebijakan harus dirasakan secara merata — termasuk oleh warga lansia, penyandang disabilitas, dan mereka yang tidak punya akses ke gawai.
Tiga pilar kebijakan alternatif
Berdasarkan wawancara dengan warga terdampak, aparat
kelurahan, dan akademisi, serta observasi lapangan di kawasan rawan banjir
Surabaya, penelitian ini mengusulkan tiga kebijakan alternatif yang saling
melengkapi:
Komunitas
Tanggap Banjir (KTB)
Sila 3 & 4
Unit kesiapsiagaan berbasis RT/RW untuk koordinasi
evakuasi, pendataan warga rentan, dan penghubung ke BPBD.
Teknologi Inklusif
Sila 5
Sensor air + sirine otomatis, peta risiko GIS
interaktif, dan smart drainage yang dikendalikan BPBD secara real-time.
Edukasi Mitigasi Berkelanjutan
Sila 2
Integrasi materi mitigasi bencana ke kurikulum SD–SMP di wilayah rawan banjir, plus pelatihan nonformal.
Mengapa pendekatan komunitas jadi
kunci?
Hasil wawancara mengungkap kenyataan yang
memprihatinkan: saat banjir tiba, warga cenderung bertindak sendiri-sendiri.
Tidak ada sistem koordinasi yang jelas di tingkat RT/RW. Padahal, kecepatan
respons kolektif adalah yang paling menentukan seberapa besar kerugian yang
bisa dicegah.
Komunitas Tanggap Banjir (KTB) yang dibentuk melalui
musyawarah warga bukan sekadar struktur organisasi — ia adalah wujud nyata
nilai gotong royong yang diamanatkan Sila Ketiga. Program pendukungnya mencakup
simulasi evakuasi tahunan dan penguatan peran Dasawisma sebagai jaringan sosial
terkecil yang sudah eksis di masyarakat.
Teknologi yang tidak meninggalkan
siapa pun
Observasi lapangan menunjukkan bahwa sistem peringatan
dini banjir di sebagian besar wilayah terdampak masih mengandalkan platform
digital — yang tidak bisa diakses oleh semua warga. Inilah ketimpangan
informasi yang bertentangan langsung dengan Sila Kelima.
Solusinya bukan melarang teknologi, melainkan
merancangnya secara inklusif. Sensor ketinggian air yang terhubung ke sirine
otomatis di tingkat RT memastikan peringatan dini sampai ke telinga semua orang
— termasuk yang tidak memiliki smartphone. Peta risiko banjir digital berbasis
GIS yang bisa diakses publik melengkapi sistem ini dengan informasi jalur
evakuasi dan lokasi posko.
Menanam kesadaran sejak bangku
sekolah
Kajian pustaka dan wawancara dengan akademisi sama-sama
menunjukkan: rendahnya kesadaran mitigasi bencana adalah akar yang sering
diabaikan. Banyak warga tidak tahu cara menyiapkan tas darurat, prosedur
evakuasi, atau cara melindungi dokumen penting. Ini bukan kegagalan individu —
ini adalah kegagalan sistem edukasi.
Mengintegrasikan materi mitigasi bencana ke dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah di kawasan rawan banjir adalah investasi jangka panjang. Generasi yang terdidik dalam kesiapsiagaan bencana akan tumbuh menjadi agen perubahan — warga yang tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tapi juga membantu tetangganya.
Selaras dengan
Sustainable Development Goals (SDGs):
·
SDG
9 — Inovasi Infrastruktur
·
SDG
13 — Perubahan Iklim
· SDG 17 — Kemitraan Multipihak
Kesimpulan:
Banjir Bukan Sekadar Bencana, tetapi Tantangan Bersama
Banjir di Surabaya adalah persoalan yang kompleks,
tetapi bukan tanpa solusi. Kuncinya bukan sekadar membangun infrastruktur baru,
melainkan membangun cara kita bersikap sebagai bangsa — dengan solidaritas
(Sila 3), musyawarah (Sila 4), kemanusiaan (Sila 2), dan keadilan (Sila 5)
sebagai pondasinya.
Tiga kebijakan alternatif — komunitas tanggap banjir,
teknologi inklusif, dan edukasi berkelanjutan — bukan usulan yang berangkat
dari ruang hampa. Ia berangkat dari data lapangan, dari suara warga yang
terdampak, dan dari nilai-nilai yang sudah lama kita anut namun belum
sepenuhnya kita wujudkan.
*) Penulis adalah Ihtada Haqi Prasetyo, Adithya Ananda Erdoansyah, Sulthoni Prima Rafasya, Muhammad Zacky Hafiansyah, Keysha Azzahra Putri, dan Achmad Zidane Fatih Ramadhan, Mahasiswa Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Telkom University Surabaya.
