GUd9GUWiGpG9GUW9TUA9TfdlTA==
Light Dark
Curhat ke AI: Ketika Empati Dipinjam dari Mesin

Curhat ke AI: Ketika Empati Dipinjam dari Mesin

Daftar Isi
×

Ilustrasi gambar: karya orisinal penulis(Sumber: Artificial Intelligence/GPT)

Penulis : Rahmawati Sirtiana Lestari – Mahasiswa Universitas Siber Asia

Ada pemandangan yang kini terasa biasa saja, padahal beberapa tahun lalu masih terdengar ganjil. Pukul sebelas malam, ketika rumah sudah sunyi dan pesan di grup percakapan tidak lagi dibalas siapa pun, seseorang membuka aplikasi kecerdasan buatan di telepon genggamnya lalu mengetik satu kalimat sederhana: aku lelah sekali hari ini. Beberapa detik kemudian jawaban muncul, tenang, tidak menghakimi, dan selalu tersedia. Kebiasaan yang kini akrab disebut curhat ke AI itu menghadirkan sesuatu yang sulit ditemukan di tempat lain. Tidak ada raut wajah yang berubah, tidak ada nasihat yang menyakitkan, tidak ada risiko cerita itu berpindah ke percakapan orang lain esok paginya. Bagi banyak orang, itulah percakapan paling aman yang mereka miliki sepanjang hari.

Fenomena ini bukan lagi anekdot. Survei IDN Research Institute terhadap responden Generasi Z dan Milenial pada Januari hingga April 2026 menemukan bahwa lebih dari tujuh dari sepuluh responden pernah mencurahkan persoalan pribadinya kepada kecerdasan buatan, dengan angka mencapai 81,1 persen pada Generasi Z dan 63,6 persen pada Milenial. Yang lebih layak direnungkan bukan angka penggunaannya, melainkan alasannya. Sebanyak 43,7 persen responden menyatakan lingkungan di sekitar mereka tidak menyediakan ruang aman yang cukup untuk bercerita, dan dari kelompok itu, delapan puluh delapan persen memilih mesin sebagai penggantinya (IDN Times, 2026). Riset Digital Resilience Indonesia yang dipublikasikan pada Juli 2026 memperkuat gambaran tersebut sekaligus menyingkap ironinya: sembilan dari sepuluh responden menilai kebijakan privasi platform kecerdasan buatan belum cukup jelas dan tiga perempatnya khawatir data mereka disalahgunakan, tetapi 63,2 persen tetap membagikan cerita paling pribadi mereka. Pada saat yang sama, 70,2 persen responden justru mengeluhkan bahwa mesin itu kerap gagal menangkap kedalaman emosi manusia (Metro TV News, 2026).

Kita, dengan kata lain, menyerahkan hal paling rapuh dalam diri kita kepada sesuatu yang kita sendiri tidak percayai sepenuhnya dan kita sendiri akui tidak benar-benar memahami kita. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah teknologi ini berbahaya, melainkan apa yang sedang terjadi pada kemampuan emosional kita sebagai manusia ketika empati mulai dapat dipinjam dari mesin.

Daniel Goleman (1995) memperkenalkan kecerdasan emosional sebagai kemampuan yang bertumpu pada lima wilayah yang saling menopang, yaitu kesadaran diri, pengelolaan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Kerangka ini penting karena menegaskan satu hal yang mudah terlupakan: kecerdasan emosional bukan pengetahuan yang dihafal, melainkan keterampilan yang dilatih. Ia tumbuh melalui pengulangan, gesekan, dan ketidaknyamanan, sebagaimana otot hanya menguat ketika diberi beban. Di titik inilah fenomena curhat kepada kecerdasan buatan menjadi menarik untuk ditimbang, sebab ia menyentuh kelima wilayah tersebut sekaligus, sebagian dengan cara yang menolong dan sebagian dengan cara yang diam-diam melemahkan.

Pada wilayah kesadaran diri, harus diakui bahwa mesin memberi sumbangan yang nyata. Menuliskan perasaan dalam kalimat yang utuh memaksa seseorang menamai apa yang sedang ia rasakan, dan penelitian mengenai pelabelan afektif menunjukkan bahwa tindakan menerjemahkan perasaan menjadi kata justru meredakan intensitas respons emosional itu sendiri (Lieberman dkk., 2007). Banyak orang baru menyadari bahwa yang mereka rasakan sesungguhnya bukan kemarahan melainkan kekecewaan, atau bukan kemalasan melainkan kelelahan yang tertunda, justru setelah memaksakan diri merumuskannya menjadi teks. Bagi pribadi yang cenderung introver dan lebih lancar berpikir melalui tulisan daripada melalui percakapan langsung, ruang semacam ini bisa menjadi pintu masuk yang sah menuju pengenalan diri. Mengabaikan manfaat ini demi kenyamanan bersikap kritis akan menjadi kekeliruan tersendiri.

Persoalan muncul pada wilayah empati dan keterampilan sosial, dan di sanalah letak keberatan terbesar saya. Empati bukanlah barang yang diterima, melainkan kemampuan yang dibentuk melalui latihan timbal balik. Manusia belajar berempati justru karena ia pernah dipaksa memahami orang yang sedang tidak sabar mendengarkannya, karena ia pernah harus menahan diri ketika lawan bicaranya juga sedang lelah, karena ia pernah salah membaca situasi lalu memperbaikinya. Percakapan dengan kecerdasan buatan meniadakan seluruh beban itu. Mesin tidak pernah kehabisan kesabaran, tidak pernah kecewa, tidak pernah memiliki kebutuhan yang menuntut untuk turut dimengerti. Hubungan itu sepenuhnya asimetris, dan justru pada asimetri yang nyaman itulah otot empati kita berhenti dilatih. Kita memperoleh pengalaman dipahami tanpa pernah menjalani kerja keras memahami.

Ada risiko lanjutan yang lebih konkret. Psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan RSCM, dr. Kristiana Siste, mengingatkan bahwa kecerdasan buatan tidak dirancang untuk menegakkan diagnosis klinis, sehingga menggantungkan penilaian atas kondisi mental pada percakapan dengan mesin berisiko menyesatkan (Berita Kini, 2025). Kekhawatiran ini beralasan ketika kebiasaan bertanya kepada mesin bergeser dari mencari teman bicara menjadi mencari label bagi diri sendiri. Sebuah kesimpulan yang keliru atau berlebihan, yang diterima sebagai kebenaran karena disampaikan dengan nada yang meyakinkan, dapat membuat seseorang menutup diri lebih rapat alih-alih mencari bantuan yang tepat.

Namun akan terlalu mudah, dan menurut saya juga tidak adil, apabila teknologi diposisikan sebagai satu-satunya terdakwa. Angka 43,7 persen yang menyatakan tidak menemukan ruang aman untuk bercerita (IDN Times, 2026) bukanlah tuduhan terhadap mesin, melainkan tuduhan terhadap kita. Ia berbicara tentang keluarga yang menjawab keluh kesah dengan ceramah, tentang ruang kelas yang menghargai jawaban benar tetapi tidak menyediakan tempat bagi kebingungan, dan tentang lingkungan kerja yang menganggap kelelahan sebagai kelemahan yang sebaiknya tidak disuarakan. Mesin tidak merebut apa pun. Ia hanya mengisi ruang kosong yang kita biarkan menganga.

Sebagai orang yang bekerja di lingkungan pelayanan publik, saya menemukan cermin dari fenomena ini di tempat kerja sendiri. Organisasi mana pun terbiasa mengukur apa yang mudah dihitung, seperti target, capaian, dan ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan. Yang jarang terukur adalah beban emosional yang dipikul pegawai ketika berhadapan dengan tekanan pekerjaan, perubahan sistem, dan tuntutan yang datang bersamaan. Ketika ruang untuk mengakui beban itu tidak tersedia secara wajar, orang akan mencari saluran yang paling tidak berisiko, dan kini saluran paling tidak berisiko itu berada di dalam saku masing-masing. Dalam pengertian ini, menjamurnya kebiasaan bercerita kepada mesin sesungguhnya merupakan indikator kesehatan sosial sebuah komunitas, sebagaimana meningkatnya penjualan obat penurun panas mengabarkan sesuatu tentang cuaca dan bukan tentang obatnya.

Di sinilah pendidikan literasi kemanusiaan memperoleh maknanya yang paling praktis. Psikologi humanistik yang dikembangkan Rogers (1961) menempatkan penerimaan tanpa syarat dan mendengarkan secara empatik sebagai syarat tumbuhnya pribadi yang utuh, dan keduanya adalah keterampilan yang dapat dipelajari siapa saja. Mendengarkan tanpa segera memberi solusi, menahan diri untuk tidak membandingkan penderitaan orang lain dengan penderitaan sendiri, serta bertanya dengan sungguh-sungguh alih-alih menunggu giliran berbicara, merupakan kemampuan sederhana yang dampaknya jauh melampaui kesederhanaannya. Setiap orang yang menguasainya sesungguhnya sedang menyediakan satu ruang aman tambahan di dunia nyata, dan setiap ruang aman yang tersedia mengurangi satu alasan untuk berpaling kepada mesin. Ruang semacam itu tidak selalu harus berbentuk layanan konseling formal; kanal diskusi publik seperti Cyber Rhetoric UNSIA pun berfungsi demikian ketika ia menjadi tempat gagasan dan keresahan dipertukarkan secara terbuka.

Saya tidak sedang mengajak siapa pun berhenti menggunakan kecerdasan buatan. Menolak teknologi yang telah menyatu dengan keseharian adalah sikap yang romantis sekaligus sia-sia. Yang saya ajukan adalah menempatkannya secara jujur pada porsinya. Kecerdasan buatan layak diperlakukan sebagai ruang tunggu, bukan sebagai rumah. Ia tempat yang baik untuk menenangkan diri, merapikan pikiran yang berantakan, dan menyusun kalimat sebelum kalimat itu diucapkan kepada manusia. Ia menjadi persoalan ketika ruang tunggu itu berubah menjadi tempat tinggal permanen, dan pintu menuju percakapan yang sesungguhnya perlahan tidak pernah lagi dibuka.

Kecerdasan emosional pada akhirnya diuji bukan di hadapan layar yang selalu sabar, melainkan di hadapan manusia lain yang sama lelahnya, sama rapuhnya, dan sama membutuhkannya untuk didengar. Mesin dapat menirukan bahasa empati dengan sangat meyakinkan, tetapi ia tidak pernah menanggung risiko apa pun ketika mengucapkannya. Empati manusia berharga justru karena ia mahal, karena ia menuntut waktu, kesabaran, dan kesediaan untuk ikut terganggu. Selama kita masih bersedia membayar harga itu untuk satu sama lain, teknologi akan tetap menjadi alat. Ketika kita berhenti bersedia, ia akan menjadi pengganti, dan pada saat itu yang hilang bukanlah kemampuan mesin untuk memahami kita, melainkan kemampuan kita untuk saling memahami.

Referensi

Berita Kini. (2025, 28 November). Banyak Gen Z dan Alpha sering curhat mental ke AI. https://surabaya.beritakini.co.id/detail/398154/banyak-gen-z-dan-alpha-sering-curhat-mental-ke-ai

Digital Resilience Indonesia. (2026). Riset DiRI: Ketika AI menjadi tempat curhat Gen Z, apakah mereka benar-benar memahami risikonya? https://digitalresilience.id/riset-diri-genz-chat-di-ai/

Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. Bantam Books.

IDN Times. (2026, 17 Juni). Riset: 81 persen Gen Z Indonesia pernah curhat ke AI, ini alasannya. https://www.idntimes.com/news/indonesia/idn-research-81-gen-z-indonesia-pernah-curhat-ke-ai-ini-alasannya-00-481xk-6fpxpm

Lieberman, M. D., Eisenberger, N. I., Crockett, M. J., Tom, S. M., Pfeifer, J. H., & Way, B. M. (2007). Putting feelings into words: Affect labeling disrupts amygdala activity in response to affective stimuli. Psychological Science, 18(5), 421–428.

Metro TV News. (2026, 16 Juli). Riset: 6 dari 10 Gen Z Indonesia pernah curhat ke AI. https://www.metrotvnews.com/read/kj2CD8d9-riset-6-dari-10-gen-z-indonesia-pernah-curhat-ke-ai

Rogers, C. R. (1961). On becoming a person: A therapist's view of psychotherapy. Houghton Mifflin.