![]() |
| Ilustrasi kontras antara aktivisme digital di media sosial dan dampak nyata kerusakan lingkungan akibat deforestasi dan banjir. |
Penulis : Irza Ghoniyya Darmawan, Universitas Mulawarman, S1 Akuntansi.
Editor : Alana Zahira Malika
Nalar Rakyat, Opini - Beberapa waktu lalu, lini masa media sosial kita dibanjiri warna pastel yang estetik. Ribuan, bahkan mungkin jutaan akun, termasuk milik teman-teman sejawat kita, kompak me-repost infografis bertuliskan “Pray for Sumatera” atau “Save Our Forests”. Jempol kita begitu ringan mengetuk tombol share, memberikan validasi instan bahwa kita adalah generasi yang peduli, tanggap, dan berdiri di sisi yang benar. Rasa “sudah berbuat sesuatu” pun muncul, menenangkan ego kita di balik layar ponsel yang nyaman.
Namun, di dunia nyata di tempat yang bahkan sinyal telepon seluler mungkin sulit didapat—sebuah ironi yang menyakitkan sedang terjadi. Saat banjir bandang menerjang Aceh dan beberapa wilayah Sumatera, air yang meluap tidak hanya membawa lumpur dan penderitaan warga. Gelombang banjir itu juga menyeret ribuan gelondongan kayu besar. Batang-batang pohon raksasa tersebut beradu, menghantam rumah-rumah warga, dan memutus jembatan.
Pemandangan mengerikan itu menjadi bukti fisik dari kegundulan hutan yang sesungguhnya. Gelondongan kayu tersebut adalah saksi bisu pembalakan liar yang terus terjadi, jauh dari jangkauan kamera estetik Instagram. Di sinilah realitas menampar imajinasi digital kita dengan keras. Saat hutan dijarah, kita justru sibuk mempercantik duka di media sosial.
Fenomena ini memaksa kita untuk bertanya kepada diri sendiri. Apakah kepedulian kita benar-benar tulus untuk saudara-saudara kita dan juga untuk hutan Indonesia, ataukah itu sekadar cara agar terlihat peduli di hadapan para pengikut media sosial?
Rasa Puas yang Menipu: Kenapa Klik Saja Tidak Cukup?
Masalah utama dari kebiasaan berbagi infografis estetik adalah munculnya perasaan bahwa kita telah melakukan sesuatu yang berarti. Dalam dunia psikologi, fenomena ini sering disebut sebagai slacktivism, gabungan dari kata slacker (pemalas) dan activism (aktivisme).
Kita perlu jujur kepada diri sendiri. Ada kepuasan instan yang muncul saat menekan tombol repost. Ketika gambar tentang banjir di Aceh atau kerusakan hutan di Sumatera terpampang di Instagram Story, otak kita seolah memberikan stempel “lunas” terhadap kewajiban sosial yang kita miliki. Kita merasa sudah menjadi bagian dari solusi, padahal pada kenyataannya kita hanya memindahkan gambar dari satu layar ke layar lainnya.
Menurut saya, informasi tanpa aksi hanyalah sebuah ilusi. Membagikan infografis memang penting untuk meningkatkan kesadaran publik, tetapi jika berhenti sampai di sana, kita sebenarnya hanya melakukan “dekorasi moral”. Gelondongan kayu raksasa yang menghantam rumah warga tidak akan berhenti mengalir hanya karena sebuah unggahan menjadi viral. Hutan tidak membutuhkan likes; hutan membutuhkan perlindungan hukum yang kuat dan pengawasan yang nyata.
Bedanya Peduli Sungguhan dengan Sekadar Ikut-ikutan
Jika kita benar-benar geram melihat kayu-kayu ilegal menghancurkan pemukiman warga, maka suara kita di media sosial harus memiliki “kaki” untuk berjalan di dunia nyata. Jangan biarkan empati menguap begitu saja ketika tren berganti. Energi kemarahan yang muncul di media sosial perlu diubah menjadi tekanan publik yang konsisten.
Aktivisme yang hanya muncul saat terjadi bencana besar lalu menghilang ketika isu tidak lagi viral hanyalah dekorasi digital. Gelondongan kayu yang muncul dalam banjir di Sumatera merupakan tamparan keras bagi kita semua. Itu adalah pesan dari alam bahwa mereka membutuhkan perlindungan nyata dalam bentuk kebijakan yang tegas dan pengawasan yang berkelanjutan, bukan sekadar ucapan belasungkawa dengan desain yang menarik.
Jika kepedulian kita hanya bertahan selama 24 jam sebelum menghilang bersama Instagram Story, maka sebenarnya kita tidak sedang membantu siapa pun selain diri sendiri. Kita juga perlu bertanya dengan jujur: apakah kita membagikan sebuah berita karena ingin melihat perubahan, atau karena takut dianggap tidak peka oleh lingkungan pertemanan di media sosial?
Aktivisme sejati sering kali melelahkan. Ia tidak selalu terlihat keren dan sering kali tidak memiliki penonton. Contohnya adalah memeriksa asal-usul kayu dari furnitur yang kita beli, mendukung petisi yang memiliki dasar hukum yang jelas, atau terus mengawasi janji pemerintah mengenai pelestarian hutan meskipun isu tersebut sudah tidak lagi menjadi perbincangan hangat.
Tindakan-tindakan semacam itu memang tidak menghasilkan banyak likes atau views, tetapi justru itulah yang memiliki potensi untuk menciptakan perubahan nyata.
Saatnya Bertindak, Bukan Hanya Berbagi
Kita perlu mulai melakukan aksi yang memiliki dampak nyata. Sudah saatnya berhenti menjadi aktivis paruh waktu yang hanya peduli ketika sebuah isu sedang menjadi tren. Mulailah dari langkah-langkah kecil yang meninggalkan jejak nyata: memilih produk secara kritis, mendukung mereka yang berjuang di garis depan pelestarian hutan, serta terus menyuarakan kebenaran meskipun sorotan media telah berpindah ke isu lain.
Media sosial tetap dapat menjadi alat yang kuat untuk menyebarkan informasi dan membangun kesadaran. Namun, kesadaran tanpa tindakan hanyalah gema yang cepat menghilang. Dunia tidak berubah hanya karena sebuah unggahan dibagikan ribuan kali. Dunia berubah ketika ada orang-orang yang bersedia bergerak, bekerja, dan memperjuangkan perubahan secara konsisten.
Matikan ponsel sejenak, keluar dari zona nyaman digital, dan mulailah bertindak. Sebab, satu aksi nyata di lapangan jauh lebih berharga daripada sejuta repost di layar ponsel. Jangan biarkan empati kita berakhir sebagai sampah digital, sementara hutan kita berakhir menjadi nisan kayu yang hanyut bersama arus banjir bandang.
