GUd9GUWiGpG9GUW9TUA9TfdlTA==
Light Dark
Hijaukan Desa, Kuatkan Ibu-Ibu: Mahasiswa UPGRIS Kelompok 2 Wujudkan Urban Farming Ramah Lingkungan di Bandungrejo

Hijaukan Desa, Kuatkan Ibu-Ibu: Mahasiswa UPGRIS Kelompok 2 Wujudkan Urban Farming Ramah Lingkungan di Bandungrejo

Daftar Isi
×
Mahasiswa UPGRIS Kelompok 2 Wujudkan Urban Farming Ramah Lingkungan

Nalar Rakyat, Semarang - Bandungrejo kembali bersemi. Bukan hanya karena musim tanam, tetapi karena semangat kolaborasi antara mahasiswa UPGRIS Kelompok 2 dan ibu-ibu Bandungrejo yang menghadirkan program kerja bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat melalui Praktik Urban Farming Ramah Lingkungan.” Program ini menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa dalam mendukung pemberdayaan masyarakat sekaligus penguatan ketahanan pangan keluarga.

Kegiatan ini berangkat dari kondisi lahan pekarangan yang terbatas serta masih ditemukannya sampah botol plastik di lingkungan sekitar. 

Melihat potensi tersebut, mahasiswa UPGRIS Kelompok 2 menggagas konsep urban farming sederhana, hemat biaya, dan mudah diterapkan oleh masyarakat. 

Tidak hanya berorientasi pada hasil panen, program ini juga menanamkan nilai kepedulian lingkungan dan kreativitas dalam memanfaatkan barang bekas.

Pelatihan diawali dengan pemberian materi mengenai konsep dasar urban farming, manfaatnya bagi keluarga, serta pentingnya penggunaan media tanam yang tepat. Ibu-ibu Bandungrejo kemudian diajak mempraktikkan secara langsung proses pembuatan media tanam yang terdiri dari campuran tanah, kompos, dan sekam. 

Tanah berfungsi sebagai penopang utama akar tanaman, kompos memberikan unsur hara alami yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, sedangkan sekam membantu menjaga porositas media agar akar dapat bernapas dengan baik dan tidak mudah tergenang air.

Setelah media tanam siap, proses dilanjutkan dengan penanaman bibit sayuran seperti cabe, tomat, dan terong. Ketiga jenis tanaman ini dipilih karena merupakan kebutuhan dapur sehari-hari, mudah dirawat, serta memiliki nilai jual yang cukup baik apabila hasil panennya melimpah. 


Mahasiswa mendampingi setiap tahapan, mulai dari pengisian media ke dalam botol bekas, teknik penanaman bibit, hingga cara penyiraman dan perawatan rutin agar tanaman tumbuh optimal.

Keunikan program ini terletak pada penggunaan botol plastik bekas sebagai wadah tanam. Botol-botol tersebut dibersihkan, dilubangi untuk drainase, lalu diisi dengan media tanam. 

Dengan sentuhan kreativitas, botol-botol ini disusun menggunakan rangka kayu yang dibentuk secara vertikal dan horizontal. 

Model vertikal memungkinkan pemanfaatan ruang secara maksimal di lahan sempit, sementara model horizontal memberikan tampilan yang lebih luas dan tertata rapi. Struktur kayu dirancang kokoh agar mampu menopang beban media tanam sekaligus tahan terhadap cuaca.

Hasilnya, pekarangan yang sebelumnya tampak biasa kini berubah menjadi kebun produktif yang hijau dan menarik. 

Deretan botol berisi tanaman cabe, tomat, dan terong menggantung rapi, menciptakan suasana asri sekaligus menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan lahan bukanlah hambatan untuk bercocok tanam. 

Selain memperindah lingkungan, kebun ini juga menjadi sarana edukasi bagi warga sekitar, termasuk anak-anak, untuk lebih mengenal proses menanam dan merawat tanaman.

Selama kegiatan berlangsung, suasana penuh kehangatan dan kebersamaan terasa begitu kuat. Ibu-ibu Bandungrejo menunjukkan antusiasme tinggi, aktif bertanya, dan terlibat langsung dalam setiap proses. 

Mahasiswa UPGRIS Kelompok 2 berperan sebagai fasilitator dan motivator, memastikan ilmu yang diberikan dapat dipahami dan diterapkan secara mandiri setelah program KKN selesai. 

Interaksi ini tidak hanya membangun keterampilan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antara mahasiswa dan masyarakat.

Program ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang. Selain membantu mengurangi limbah plastik, urban farming ini dapat menjadi langkah awal menuju kemandirian pangan keluarga. 

Jika dikelola secara konsisten, hasil panen bahkan berpotensi menambah pemasukan rumah tangga. Lebih dari itu, kegiatan ini menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana di rumah masing-masing.

Keberhasilan kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa pemberdayaan perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan desa. Ketika ibu-ibu dibekali pengetahuan dan keterampilan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh diri mereka sendiri, tetapi juga oleh seluruh anggota keluarga. 

Dari tangan-tangan terampil para ibu, lahir kebun-kebun kecil yang menjadi sumber gizi, sumber penghasilan, sekaligus sumber inspirasi bagi lingkungan sekitar.

Melalui perpaduan tanah, kompos, sekam, botol bekas, dan rangka kayu yang dirancang kreatif, mahasiswa UPGRIS Kelompok 2 bersama ibu-ibu Bandungrejo telah membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil. 

Bandungrejo kini tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan KKN, tetapi juga menjadi simbol semangat hijau, kemandirian, dan pemberdayaan perempuan dalam membangun desa yang lebih lestari dan berdaya. 🌱