Penulis : Anindita Indriani Nariswari, Antropologi, Universitas Airlangga.
Nalar Rakyat, Opini - Beragam tradisi duka di Indonesia memperlihatkan betapa luas dan mendalamnya cara masyarakat memandang peristiwa kematian sebagai bagian dari siklus kehidupan. Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam mengungkapkan kesedihan, memberikan penghormatan, serta menjaga hubungan antara yang hidup dan yang telah tiada. Dari ritual sederhana hingga upacara megah yang penuh simbol, ekspresi duka bukan hanya menjadi wujud kehilangan, tetapi juga cermin nilai-nilai budaya, spiritualitas, dan kebersamaan yang diwariskan turun-temurun. Melalui keragaman inilah, masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa kematian bukan sekadar akhir kehidupan, melainkan momen penting yang mempertemukan rasa cinta, solidaritas, dan identitas kolektif.
Ragam Tradisi Duka di Tanah Indonesia
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya. Dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adat memiliki cara tersendiri dalam menandai setiap fase kehidupan, termasuk masa ketika seseorang meninggal dunia. Tradisi berkabung menjadi salah satu aspek budaya yang paling kuat melekat dalam kehidupan masyarakat. Ritual ini bukan hanya menjadi bentuk ungkapan kesedihan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperlihatkan rasa kebersamaan, penghormatan, dan identitas kelompok. Dalam banyak komunitas, kematian tidak diartikan hanya sebagai berhentinya kehidupan fisik, melainkan juga sebagai peristiwa sosial yang menghubungkan manusia dengan nilai nilai yang diwariskan leluhur.
Kematian dalam Pandangan Antropologi
Dalam kajian antropologi, pemaknaan terhadap kematian jauh lebih luas dibanding pemahaman umum. Tokoh tokoh seperti Van Gennep dan Turner menjelaskan bahwa kematian merupakan bagian dari proses peralihan, yaitu perubahan status seseorang dari dunia nyata menuju alam yang dipercaya berada di luar kehidupan manusia. Konsep ini tidak hanya menggambarkan perjalanan spiritual seseorang, tetapi juga menegaskan posisi individu dalam komunitas. Pandangan inilah yang kemudian tercermin dalam berbagai ritual duka di Indonesia, yang dipenuhi simbol, doa, dan tindakan kolektif sebagai bentuk penghormatan dan dukungan sosial.
Tahlilan sebagai Wadah Kebersamaan Masyarakat Jawa
Pada masyarakat Jawa, salah satu tradisi duka yang paling dikenal adalah tahlilan. Ritual ini berupa pertemuan keluarga, kerabat, dan tetangga untuk membaca doa bagi almarhum. Tahlilan dilakukan secara bertahap sejak hari hari awal setelah kematian hingga hari keseratus. Selain menggambarkan rasa hormat kepada orang yang telah pergi, tahlilan juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antarwarga. Kehadiran para tetangga yang datang untuk membantu dan menghibur keluarga yang berduka menciptakan suasana kebersamaan yang membuat proses kehilangan terasa lebih ringan untuk dijalani.
Rambu Solo di Toraja
Di Toraja, Sulawesi Selatan, kematian menjadi titik awal sebuah prosesi istimewa yang berlangsung meriah dan penuh simbol. Upacara rambu solo dikenal sebagai salah satu tradisi pemakaman paling kompleks di Indonesia. Keluarga besar dan masyarakat desa akan bergotong royong mengadakan rangkaian acara yang dapat berlangsung selama berhari hari hingga berminggu minggu. Salah satu bagian penting dalam upacara ini adalah penyembelihan kerbau, yang mencerminkan status sosial sekaligus menjadi simbol penghormatan terakhir bagi almarhum. Masyarakat Toraja percaya bahwa roh orang yang meninggal harus dihantar dengan layak agar dapat kembali ke alam para leluhur. Semua prosesi dilakukan dengan penuh hormat, menunjukkan betapa tinggi masyarakat Toraja menghargai perjalanan spiritual setelah kematian.
Warna-warni Ekspresi Duka di Berbagai Daerah
Selain Jawa dan Toraja, daerah lain di Indonesia juga memiliki tradisi berkabung yang unik. Di Minangkabau terdapat ritual tabuik yang memadukan unsur sejarah dan keagamaan dalam prosesi duka. Di Bali, upacara ngaben menjadi simbol pelepasan roh dengan cara pembakaran jenazah yang dianggap mampu menyucikan dan mempermudah perjalanan roh menuju alam selanjutnya. Di Papua, khususnya pada suku Dani dan Moni, dahulu dikenal praktik pemotongan jari sebagai bentuk ekspresi duka yang paling mendalam bagi anggota keluarga yang wafat. Walaupun beberapa tradisi sudah tidak lagi dilakukan secara ketat, nilai nilai simbolis yang terkandung di dalamnya tetap menjadi bagian dari ingatan budaya masyarakat setempat.
Makna Kebersamaan dalam Ritual Duka
Salah satu ciri khas dari tradisi duka di Indonesia adalah penekanan pada hubungan sosial. Duka bukan hanya ditanggung oleh keluarga inti, tetapi dirasakan bersama oleh seluruh komunitas. Bahkan seseorang yang tidak begitu dekat pun merasa memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dan menunjukkan empati. Kehadiran ini menciptakan ruang emosional di mana keluarga yang ditinggalkan merasa didukung dan tidak menjalani kesedihan sendirian. Kehangatan komunitas menjadi kekuatan utama yang membantu proses penyembuhan dari rasa kehilangan.
Simbol Simbol dalam Ritual Berkabung
Dalam tradisi duka di Indonesia, simbol memegang peranan penting. Penggunaan pakaian berwarna hitam atau putih, penyajian makanan tertentu, pembacaan doa, hingga tatanan duduk dalam upacara memiliki makna mendalam yang lebih dari sekadar ritual. Warna hitam sering digunakan sebagai tanda kedukaan, sedangkan dalam beberapa budaya warna putih justru menandakan kesucian atau harapan akan kehidupan baru. Di Bali, pakaian adat berwarna hitam mencerminkan kesuburan dan energi kehidupan. Semua simbol ini berfungsi sebagai bahasa nonverbal yang menyampaikan pesan tentang rasa hormat, penghormatan, serta dukungan moral bagi keluarga yang ditinggalkan.
Modernisasi dan Perubahan Bentuk Dukacita
Perkembangan zaman membawa perubahan pada cara masyarakat menjalani proses berkabung. Di kota kota besar, waktu yang terbatas membuat sejumlah upacara yang dulu berlangsung lama kini dipersingkat. Meski begitu, esensi dari tradisi tersebut tidak hilang. Solidaritas, penghormatan, dan rasa kebersamaan tetap menjadi inti dari proses berduka. Di era digital, ekspresi duka turut hadir melalui media sosial. Banyak orang menggunakan ruang digital untuk mengungkapkan belasungkawa, berbagi kenangan, atau menyampaikan doa. Ketika seorang pengemudi ojek daring bernama Affan meninggal akibat insiden demonstrasi di Jakarta, kabar tersebut dengan cepat menyebar luas. Reaksi masyarakat yang memenuhi media sosial dengan ucapan duka menjadi bukti bahwa rasa empati tetap hidup dan dapat diekspresikan dalam bentuk yang berbeda.
Dukacita Sebagai Budaya yang Terus Berkembang
Fenomena ini menunjukkan bahwa duka tidak memiliki tetap. Tidak ada aturan dalam berduka. Setiap masyarakat dan setiap individu memiliki caranya sendiri dalam menghadapi kehilangan. Tradisi duka di Indonesia pun terus berkembang mengikuti perubahan sosial, tetapi nilai dasarnya tetap bertahan, yaitu cinta, penghormatan, dan kebersamaan. Budaya duka menjadi ruang di mana masyarakat mengekspresikan identitas, menyatukan nilai nilai lama dan baru, serta menunjukkan bagaimana manusia merawat hubungan satu sama lain melalui momen kehilangan.
Duka sebagai Bahasa Kebersamaan
Pada akhirnya, ritual berkabung di Indonesia memperlihatkan betapa kayanya tradisi dan betapa kuatnya hubungan sosial yang dimiliki masyarakat. Setiap tradisi mungkin berbeda bentuknya, tetapi semuanya menyampaikan pesan serupa. Kematian merupakan momen sakral tentang penghormatan. Melalui tradisi ini, masyarakat diajarkan bahwa kehilangan bukan hanya tentang perpisahan, tetapi juga tentang merayakan cinta, mengenang kehidupan, serta menjaga ikatan yang menyatukan manusia satu sama lain. Duka menjadi bahasa yang menyatukan komunitas dan memberi makna dalam perjalanan hidup yang terus berjalan.
