![]() |
| Tim pengabdian dan pelaku eduwisata Desa Muntang berfoto bersama usai pelatihan di Purbalingga. (Foto: Dok. PDB) |
PURBALINGGA — Pelaku eduwisata Desa Muntang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, memperkuat kemampuan Bahasa Inggris sebagai bekal berkomunikasi dan memperkenalkan potensi desa kepada pengunjung yang lebih luas. Penguatan kapasitas tersebut berlangsung di Aula Limbah Pustaka, Minggu (13/9/2026).
Kegiatan itu
merupakan bagian dari pelatihan penguatan kapasitas keuangan, digitalisasi, dan
Bahasa Inggris bagi pelaku eduwisata Desa Muntang yang diselenggarakan melalui
kolaborasi Universitas Telkom Kampus Purwokerto dan Universitas Pertiwi.
Mengusung
semangat “Smart Village, Global Village” dan pesan “Dari Desa untuk Dunia”,
pelatihan Bahasa Inggris diarahkan untuk membangun keberanian masyarakat dalam
berkomunikasi, meningkatkan kemampuan pengucapan, serta membiasakan penggunaan
Bahasa Inggris sederhana yang dapat diterapkan saat berinteraksi dengan
pengunjung.
Kegiatan
tersebut menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) bertajuk
“Transformasi Desa Muntang menjadi Sentra Eduwisata Literasi dan Peternakan
Rakyat melalui Teknologi Tepat Guna serta Penguatan Manajemen dan Keuangan
Komunitas Berbasis Digital.”
Program
pengabdian diketuai Dasril Aldo, S.Kom., M.Kom dengan anggota tim Toni Anwar,
S.Kom.,M.M.S.I, Ajeng Dyah Kurniawati, S.T.P., M.Sc., Dr. Sri Mulyani, S.E.,
M.M., dan Widya Lelisa Army, S.Kom., M.Kom. Pelaksanaan kegiatan turut
melibatkan Retno Ramadhina, S.S., M.Pd. dan Setiawati, S.AB., M.M. sebagai
narasumber, serta mahasiswa Muhammad Zaky Mubarok, Ichya Ulumuddiin, dan Elisa
Kusumaningsih yang mendampingi peserta selama rangkaian kegiatan.
Ketua Limbah
Pustaka, Raden Roro Hendarti, S.Sos. menyambut baik penguatan kemampuan
komunikasi bagi masyarakat. Menurutnya, pengembangan eduwisata perlu diikuti
kesiapan sumber daya manusia agar masyarakat tidak hanya memiliki kegiatan yang
menarik untuk dikunjungi, tetapi juga mampu menceritakan potensi desanya dengan
baik.
Dari mitra
peternakan, Imam dari Ayam Petet Lestari menilai kemampuan berkomunikasi turut
mendukung pengembangan peternakan rakyat sebagai bagian dari aktivitas edukasi
di Desa Muntang. Interaksi yang baik dengan pengunjung dinilai dapat membantu
masyarakat menjelaskan proses, produk, maupun nilai edukatif dari kegiatan yang
mereka kelola.
Ajeng Dyah
Kurniawati, S.T.P., M.Sc. dari Universitas Telkom menyampaikan bahwa masyarakat
menjadi aktor utama dalam pengembangan eduwisata. Karena itu, peningkatan
kapasitas tidak hanya diarahkan pada pemanfaatan teknologi dan pengelolaan
usaha, tetapi juga pada kemampuan masyarakat berinteraksi dan menyampaikan
informasi kepada pengunjung.
Sementara itu,
Dr. Sri Mulyani, S.E., M.M. dari Universitas Pertiwi menilai penguatan
keterampilan masyarakat menjadi bagian penting agar potensi desa dapat
berkembang dan dikenal lebih luas.
“Penguatan
kapasitas masyarakat menjadi bagian penting agar potensi yang dimiliki desa
dapat berkembang lebih luas. Kami menyampaikan terima kasih kepada Kementerian
Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan
Pengembangan serta Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
(DPPM) atas dukungan terhadap program pemberdayaan ini sehingga perguruan
tinggi dapat terus berkolaborasi dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,”
ujar Sri Mulyani.
Program tersebut
mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Direktorat Penelitian dan
Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) melalui pendanaan Bantuan Operasional
Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun
Anggaran 2026.
Pada sesi Bahasa
Inggris, Retno Ramadhina, S.S., M.Pd., mengajak peserta untuk tidak menjadikan
keterbatasan kosakata sebagai penghalang untuk mulai berkomunikasi. Menurutnya,
kemampuan berbicara dapat dibangun secara bertahap melalui keberanian mencoba
dan latihan yang konsisten.
“Bahasa Inggris
untuk eduwisata tidak harus dimulai dari kalimat yang rumit. Yang terpenting
adalah berani berbicara, membiasakan pengucapan yang jelas, dan terus berlatih.
Dengan komunikasi yang sederhana tetapi percaya diri, masyarakat sudah dapat
mulai menyambut pengunjung, menjelaskan kegiatan, serta memperkenalkan potensi
Desa Muntang kepada khalayak yang lebih luas,” ungkap Retno.
Suasana
pelatihan dibuat interaktif dengan menempatkan peserta sebagai bagian aktif
dalam proses belajar. Salah satu metode yang digunakan adalah tongue twister,
yakni latihan pengucapan melalui rangkaian kata dengan kemiripan bunyi untuk
melatih artikulasi, kelancaran, dan keberanian berbicara.
Materi latihan
antara lain menggunakan permainan pengucapan “I scream, you scream, we all
scream for ice cream” serta sejumlah kalimat lain yang menuntut peserta
mengulang bunyi tertentu secara tepat. Materi presentasi juga menampilkan
latihan pengucapan seperti “Angry ants ate an apple” dan kalimat lain
untuk membiasakan peserta dengan variasi bunyi Bahasa Inggris.
Pendekatan
praktik dipilih agar peserta tidak hanya memahami Bahasa Inggris secara
teoritis. Melalui latihan berulang, peserta didorong membangun keberanian untuk
berbicara tanpa terlalu takut melakukan kesalahan.
Bagi pelaku
eduwisata, kemampuan tersebut dapat diterapkan mulai dari komunikasi yang
sederhana, seperti memberikan salam kepada pengunjung, memperkenalkan diri,
menjelaskan lokasi atau kegiatan, hingga menceritakan potensi yang dimiliki
Desa Muntang.
Penguatan
kemampuan Bahasa Inggris menjadi relevan seiring pengembangan Desa Muntang
sebagai sentra eduwisata literasi dan peternakan rakyat. Limbah Pustaka
memiliki aktivitas berbasis literasi dan pemberdayaan masyarakat, sementara
Ayam Petet Lestari menjadi bagian dari potensi peternakan rakyat yang dapat
dikemas sebagai pengalaman belajar bagi pengunjung.
Kemampuan berkomunikasi
diharapkan membantu masyarakat menjadi pencerita utama bagi potensi desanya
sendiri. Dengan demikian, pengalaman wisata tidak hanya terbentuk dari apa yang
dilihat pengunjung, tetapi juga dari cerita, pengetahuan, dan interaksi yang
diperoleh selama berada di desa.
Pelatihan Bahasa
Inggris tersebut menjadi bagian dari penguatan kapasitas masyarakat yang
dilakukan secara lebih luas melalui program PDB. Selain komunikasi, masyarakat
juga mendapat penguatan dalam aspek pengelolaan keuangan dan digitalisasi
sebagai upaya membangun ekosistem eduwisata yang semakin siap dan mandiri.
Melalui kegiatan
ini, semangat “Dari Desa untuk Dunia” diharapkan tidak berhenti sebagai slogan.
Penguatan kemampuan Bahasa Inggris menjadi salah satu langkah untuk membuka
ruang yang lebih luas bagi masyarakat Desa Muntang dalam memperkenalkan potensi
lokal, membangun kepercayaan diri, serta meningkatkan kualitas layanan kepada
pengunjung.
Dengan masyarakat sebagai pelaku utamanya, Desa Muntang diharapkan tidak hanya berkembang sebagai destinasi yang dikunjungi, tetapi juga sebagai ruang belajar yang mampu membawa cerita dan potensi lokalnya kepada dunia.
