Nalar Rakyat, Jakarta - Upaya penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) terus menjadi perhatian berbagai pihak dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Dalam konteks tersebut, Arif Zulkarnain, Lecturer Specialist S3 – BINUS University, menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan yang selaras dengan kebutuhan industri.
Ia mengungkapkan bahwa hingga saat ini masih terdapat kesenjangan antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan riil industri.
“Pembekalan keterampilan yang relevan menjadi hal krusial agar lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap kerja,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa akademisi perlu terus meningkatkan kapasitas serta menyesuaikan diri dengan dinamika industri yang berkembang pesat. “Dengan fondasi yang kuat, perguruan tinggi dapat menyiapkan lulusan yang lebih adaptif terhadap perubahan pasar kerja,” lanjutnya.
Menurut Arif, kontribusi dunia industri dalam proses pendidikan juga sangat penting, khususnya dalam perancangan mata kuliah yang mendukung peningkatan kualitas SDM mahasiswa.
“Kurikulum perlu memperoleh masukan dari praktisi agar materi pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan terkini,” katanya. Ia menilai keterlibatan industri dapat diperkuat melalui guest lecture maupun diskusi langsung di kelas. “Mahasiswa tidak cukup hanya mendapatkan pembelajaran teoritis dari dosen, tetapi juga perlu perspektif praktis dari pelaku industri,” tegasnya.
Ia mencontohkan, pada jurusan perhotelan telah diterapkan program magang selama enam bulan untuk memberikan pengalaman awal di dunia kerja. Program tersebut dinilai efektif sebagai jembatan transisi mahasiswa sebelum benar-benar terjun ke industri.
Lebih lanjut, Arif menilai komitmen pemerintah dalam mendorong pendidikan tinggi dan vokasi menunjukkan arah yang positif.
“Ke depan, penguatan program pengembangan untuk jalur Diploma maupun LPK perlu terus dilakukan, termasuk peningkatan kapasitas dosen dan fasilitator,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kurikulum dan program pelatihan harus selalu diselaraskan dengan kebutuhan industri.
Ia juga menyoroti bahwa bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, memperoleh pekerjaan setelah lulus masih menjadi prioritas utama. Karena itu, peran pemerintah sangat diharapkan dalam menyediakan informasi pasar kerja serta pendampingan bagi lulusan.
“Setelah memasuki dunia kerja, perlu disiapkan development program yang berkelanjutan karena sertifikasi keahlian sangat dibutuhkan sejak awal karier,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa evaluasi perlu dilakukan apabila dalam periode tertentu tidak terjadi perkembangan karier tenaga kerja.
Menutup pernyataannya, Arif menekankan pentingnya sinergi kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri.
“Salah satu langkah strategis adalah melakukan pemetaan kebutuhan kompetensi untuk jangka menengah hingga panjang, misalnya sepuluh tahun ke depan,” katanya.
Ia berharap target bersama tersebut dapat diturunkan ke dalam capaian tahunan yang terukur sehingga tercipta evaluasi berkelanjutan antara kebutuhan industri, kurikulum pendidikan tinggi, dan dukungan kebijakan pemerintah.
.jpeg)