![]() |
| Screenshot - (Foto: Dok/Ist). |
Nalarrakyat, Opini - Kontroversi penyajian minuman dengan kemasan yang diduga infus medis oleh Buba Tea Bali terus menuai sorotan publik. Isu ini tidak lagi berpusat pada konten viral semata, melainkan berkembang menjadi kritik terhadap cara brand menangani klarifikasi dan komunikasi publik setelah polemik tersebut ramai diperbincangkan dan diberitakan media nasional.
Kasus ini bermula dari unggahan TikTok kreator @sosueee_ pada tanggal 14 Desember 2025, yang menampilkan matcha disajikan menggunakan kantong dan selang yang secara visual identik dengan infus medis, lengkap dengan narasi “I need matcha infusion into me from now on” dan penanda lokasi Buba Tea, Canggu Bali. Video tersebut viral dan memicu kekhawatiran publik terkait keamanan pangan serta penggunaan atribut medis dalam konteks konsumsi minuman.
Sorotan semakin meluas setelah isu ini diangkat media nasional dan disertai pernyataan dari pihak produsen farmasi yang menegaskan bahwa kemasan menyerupai infus tersebut bukan produk resmi mereka. Sejak titik ini, diskusi publik bergeser dari soal kreativitas konten menjadi tanggung jawab brand Buba Tea Bali yang beralamat di Jl Raya Semat No.7, Kuta Utara, Bali tersebut terhadap keamanan dan persepsi konsumen.
Respons Tenaga Kesehatan Mempertegas Kekhawatiran
Kritik tidak hanya datang dari warganet, tetapi juga dari kreator berlatar belakang kesehatan. Akun apoteker @apt.larasati menyoroti bahwa kantong infus merupakan alat kesehatan, bukan wadah minuman, sehingga penggunaannya berpotensi menimbulkan persepsi keliru di masyarakat.
Sementara itu, akun perawat @evanderry menegaskan bahwa kreativitas konten seharusnya tetap mempertimbangkan fungsi, konteks, dan makna alat medis, terutama ketika berkaitan dengan konsumsi publik. Kehadiran perspektif tenaga kesehatan membuat isu ini berkembang menjadi persoalan edukasi dan keamanan, bukan sekadar tren media sosial.
Permintaan Maaf yang Dinilai Tidak Substantif
Menanggapi polemik tersebut, akun resmi TikTok @buba_tea_bali mengunggah narasi permintaan maaf yang telah ditonton sekitar 13,5 ribu kali. Namun, unggahan ini dinilai belum menjawab inti persoalan. Tidak ada penjelasan mengenai asal-usul kemasan yang digunakan, apakah kemasan tersebut food-grade, serta standar keamanan apa yang diterapkan. Permintaan maaf disampaikan secara umum, sementara kekhawatiran publik bersifat spesifik dan berkaitan langsung dengan kesehatan.
Komentar Dihapus, Ruang Dialog Dipertanyakan
Kritik publik semakin menguat ketika muncul dugaan bahwa kolom komentar pada unggahan klarifikasi @buba_tea_bali difilter atau dihapus. Sejumlah warganet mengaku komentar mereka tidak lagi terlihat meski unggahan tersebut terus ditonton ribuan kali.
Akun @seccnaavxlyy sempat mengkritik cara tim PR menangani krisis, menyebut bahwa memfilter komentar justru memperburuk persepsi publik dan menyarankan agar brand bersikap lebih terbuka. Komentar tersebut kini dilaporkan telah hilang.
Hal serupa dialami akun @kulirs a.k.a Jaga Mulu, yang mempertanyakan penghapusan komentarnya. Ia menegaskan bahwa pertanyaannya dilandasi kepedulian sebagai konsumen, termasuk menanyakan di mana kemasan infus food-grade diperoleh serta mengingatkan potensi bahaya penggunaan infus medis yang disterilkan dengan etilen oksida, zat yang dikenal bersifat karsinogenik. Komentar tersebut kini juga tidak lagi ditemukan.
Ketika Strategi Respons Tidak Sejalan
Menurut Situational Crisis Communication Theory (SCCT) yang dikembangkan oleh W. Timothy Coombs, krisis yang bersumber dari keputusan internal organisasi menempatkan tingkat tanggung jawab tinggi pada brand. Dalam kondisi ini, strategi komunikasi yang dianjurkan bukan sekadar permintaan maaf, melainkan klarifikasi terbuka, penerimaan tanggung jawab, dan tindakan korektif yang jelas. Pada kasus Buba Tea Bali, minimnya penjelasan substantif dan pembatasan ruang dialog berpotensi memperkuat atribusi kesalahan di mata publik. Dalam kerangka SCCT, respons semacam ini berisiko memperpanjang krisis karena publik merasa kekhawatirannya dihindari, bukan dijawab.
Di Mana Letak Masalah Penanganan Krisisnya?
Kasus Buba Tea Bali menunjukkan bahwa krisis ini bukan semata dipicu oleh reaksi berlebihan publik, melainkan oleh keputusan internal brand yang sejak awal memunculkan risiko. Dalam kondisi seperti ini, publik secara alami menempatkan tanggung jawab besar pada pihak brand untuk menjelaskan, memperbaiki, dan memastikan kesalahan serupa tidak terulang.
Namun, hingga kini respons yang muncul justru dinilai belum sebanding dengan tingkat kekhawatiran publik. Permintaan maaf yang minim penjelasan, tidak adanya klarifikasi soal asal-usul dan keamanan kemasan, serta penyaringan komentar kritis membuat publik merasa pertanyaan mendasar mereka dihindari. Akibatnya, fokus perhatian bergeser dari konten viral ke cara brand menghadapi kritik.
Rekomendasi Penanganan Krisis
Krisis seperti ini menuntut strategi pemulihan (rebuild strategy), yaitu membangun kembali kepercayaan melalui klarifikasi faktual, keterbukaan komunikasi, dan langkah korektif nyata. Tanpa itu, upaya pemulihan citra berisiko berhenti pada formalitas dan memperpanjang krisis kepercayaan publik.
*) Penulis adalah A Reza Okto (Mahasiswa Magister komunikasi Korporat Universitas Paramadina.
