GUd9GUWiGpG9GUW9TUA9TfdlTA==
Light Dark
Belajar Menembus Waktu ke Era 1946: Pengalaman Magang Radityo Kusuma Dewa Bersama Pura-Pura Props dalam Film 'Fajar Sebelum Merah'

Belajar Menembus Waktu ke Era 1946: Pengalaman Magang Radityo Kusuma Dewa Bersama Pura-Pura Props dalam Film 'Fajar Sebelum Merah'

Daftar Isi
×
Di bawah bimbingan Raka W.S dari Pura-Pura Props serta arahan visual dari pengarah artistik Edy Wibowo. (Foto: Dok/Ist). 

Nalarrakyat, Solo— Perjalanan saya menembus waktu ke era 1946 dimulai pada 2 April 2026. Saya, Radityo Kusuma Dewa, melangkah ke dalam tahap persiapan (pre-production) pembuatan film sejarah bertajuk Fajar Sebelum Merah. Selama kurang lebih satu setengah bulan hingga 20 Mei 2026, saya menjalani program magang sebagai bagian dari crew dressing bersama kolektif artistik Pura-Pura Props.

Tantangan Awal: Menguasai Teknik Edging Properti

Tahap persiapan awal menjadi fase yang paling menguji ketelitian saya. Di bawah bimbingan Raka W.S dari Pura-Pura Props serta arahan visual dari pengarah artistik (Art Director) Edy Wibowo, saya dituntut menerjemahkan panduan visual (concept deck) era Revolusi Fisik (1946) ke dalam bentuk fisik properti.

Tantangan nyata saya rasakan saat mulai mempelajari teknik edging—proses pengikisan, pewarnaan ulang, dan pemberian efek penuaan pada tepi maupun permukaan benda agar terlihat aus secara alami sesuai zaman pergerakan. Di awal proses, menemukan tingkat keusangan yang otentik dan presisi bukan hal yang mudah bagi saya. Proses trial and error dalam menguasai teknik edging ini sempat memakan waktu lebih lama dari perkiraan semula. Namun, berkat ketekunan riset material dan pendampingan intensif dari tim Pura-Pura Props, kendala teknis tersebut berhasil saya atasi hingga menghasilkan karakter visual properti yang siap pakai.

Menerjemahkan Skenario ke Dalam Detail Set Syuting

Memasuki tahap pengambilan gambar, hasil kerja keras saya bersama tim dari proses edging dan persiapan properti tersebut langsung diuji di lapangan. Mengangkat naskah karya duet sineas Garin Nugroho dan Dirmawan Hatta, film ini menceritakan perjalanan sekelompok manusia beragam etnis di atas sebuah "Truk Malaikat" yang menembus kekacauan "Masa Bersiap" 1946 menuju Yogyakarta demi menyelamatkan data pertambangan Indonesia.

Sebagai crew dressing, tugas saya meluas ke penataan set (set dressing). Properti yang telah melalui proses edging mendetail—seperti Buku Catatan Pertambangan tua berbercak darah milik Frans, Radio Panggul Militer rakitan lengkap dengan mikrofon langka milik Arya, tas medis PMI dan Kain Sampur milik Fifi, hingga lembar-lembar sketsa srikaya—saya tata dengan presisi di setiap sudut lokasi syuting.

Dinamika Lapangan dan Kendala Penataan Set

Proses syuting memboyong kami menyusuri berbagai lokasi dengan karakter set yang sangat beragam, mulai dari area reruntuhan bangunan tua, studio alam terbuka, hingga lokasi-lokasi outdoor yang dinamis. Di lapangan, kami dihadapkan pada kendala cuaca yang tidak menentu dan medan syuting yang berat. Menyusun properti berukuran besar seperti tumpukan karung kopi, peti hasil bumi di atas truk pelarian, hingga kawat berduri di bawah terik matahari serta ancaman hujan menuntut fisik dan fokus ekstra dari saya dan tim.

Tantangan terbesar kami saat itu adalah menjaga konsistensi penempatan properti (continuity) di tengah pergerakan adegan yang cepat dan dinamis, agar atmosfer otentik era 1946 hingga 1950 tetap terjaga sempurna tanpa ada detail modern yang bocor di kamera.

Di awal masa persiapan, jujur saya sempat kesulitan saat belajar teknik edging. Membikin benda modern atau bersih terlihat benar-benar usang dan pernah melintasi masa perang 1946 membutuhkan eksperimen berulang kali, sehingga prosesnya memakan waktu lebih lama dari jadwal. Namun, ketika melihat properti tersebut akhirnya tertata pas di dalam set syuting, rasanya sangat memuaskan. Belajar langsung dari Mas Raka di Pura-Pura Props dan Pak Edy Wibowo membuka mata saya bahwa menggarap tata artistik film sejarah adalah tentang kesabaran merawat detail.

Merawat Ingatan Sejarah di Balik Layar

Pengalaman magang ini memperlihatkan kepada saya betapa pentingnya sinergi antara talenta muda seperti saya dengan para praktisi berpengalaman dalam mendukung divisi artistik sinema Indonesia. Bagi saya, Pura-Pura Props tidak hanya hadir sebagai penyedia properti, tetapi juga sebagai wadah pembelajaran yang menempa ketelitian visual saya dari pra-produksi hingga hari terakhir syuting pada 20 Mei 2026.

Perjalanan dari 2 April hingga 20 Mei 2026 ini memberikan perenungan mendalam bagi diri saya. Di balik layar Fajar Sebelum Merah, saya belajar bahwa sejarah tidak hanya tertulis dalam naskah tua, tetapi juga dirajut melalui ketahanan dan ketelitian tangan-tangan kreatif yang menyusun detail visual di balik kamera.