![]() |
| Kantor Tumbuh Sinema Rakyat. (Foto: Dok/Ist). |
Nalarrakyat, Magelang – Bagi seorang mahasiswa film, ruang kelas seringkali terasa sempit untuk menampung kompleksitas realitas sosial. Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), saya berkesempatan melangkah keluar dari zona nyaman akademis untuk magang di Tumbuh Sinema Rakyat, sebuah gerakan perfilman di Salaman, Magelang, yang konsisten menyuarakan isu-isu masyarakat akar rumput.
Di tempat inilah, saya belajar bahwa film bukan sekadar soal estetika visual, melainkan sebuah posisi ideologis. Selama periode magang, saya fokus pada pengembangan naskah film pendek berjudul "GEDIBAL". Melalui naskah ini, saya mencoba menerjemahkan visi "Tumbuh Sinema Rakyat" ke dalam narasi yang kritis namun tetap aksesibel bagi penonton.
Menemukan Karakter di Pinggir Jalan
Salah satu pelajaran paling berharga di Tumbuh Sinema Rakyat adalah pentingnya riset lapangan. Untuk menghidupkan karakter Slamet, seorang tukang sol sepatu, saya tidak bisa hanya berimajinasi. Dibawah arahan mentor, saya melakukan observasi mendalam di lapak-lapak sol sepatu pinggir jalan di Magelang.
Saya mempelajari detail teknis; bagaimana jarum baja buatan Jerman menusuk kulit sepatu, aroma amis dari lem, hingga debu yang menempel di tangan kapalan seorang pekerja. Detail-detail kecil inilah yang kemudian membangun otentisitas dalam naskah "GEDIBAL", sebuah cerita horor-surealis yang memotret pertemuan antara takhayul masyarakat kelas bawah dengan realitas politik yang kelam.
Kaos Partai dan Satir Politik
Naskah "GEDIBAL" mengeksplorasi nasib rakyat kecil yang seringkali terjepit di antara konflik kepentingan besar. Isu-isu sensitif seperti tambang emas ilegal dan hilangnya aktivis lingkungan hidup saya kemas melalui simbol-simbol keseharian yang satir.
Salah satu poin krusial dalam pembelajaran saya adalah penggunaan simbol Kaos Partai. Dalam naskah ini, karakter Slamet menggunakan kaos partai sebagai pembungkus sepatu maut yang ia bersihkan. Ia mengira telah melakukan ritual "buang sial", tanpa menyadari bahwa identitas pada kaos tersebut justru menyeretnya ke dalam pusaran kasus hukum.
Di Tumbuh Sinema Rakyat, saya belajar untuk tidak takut menyisipkan kritik sosial. Kaos partai dalam naskah ini menjadi metafora tajam: bagaimana simbol yang menjanjikan perlindungan justru bisa menjadi jerat bagi mereka yang berada di strata sosial terbawah atau "Gedibal".
Menjadi Filmmaker yang Berempati
Magang di Tumbuh Sinema Rakyat memberikan perspektif baru bagi saya sebagai mahasiswa ISI Surakarta. Saya belajar bahwa proses kreatif pembuatan film haruslah humanis. Melalui diskusi rutin dan asistensi intensif bersama pembimbing mitra, saya diajak untuk selalu bertanya: "Untuk siapa film ini dibuat?" dan "Apakah kita sudah jujur dalam merepresentasikan suara warga?"
Pengalaman menulis naskah "GEDIBAL" bukan hanya tentang menyelesaikan tugas magang, tapi tentang mengasah kepekaan untuk membaca situasi lapangan dan empati artistik.
Penutup: Catatan untuk Tumbuh Sinema Rakyat
Perjalanan magang ini menyadarkan saya bahwa sinema lokal memiliki kekuatan besar sebagai medium pendidikan dan advokasi sosial. Terima kasih kepada Tumbuh Sinema Rakyat yang telah menjadi laboratorium nyata bagi saya untuk mempraktikkan ilmu film dan televisi sebagai alat perubahan sosial.
Semoga draf naskah yang lahir dari sudut kecil Magelang ini bisa menjadi kontribusi kecil bagi perkembangan perfilman Indonesia yang lebih berakar pada kearifan lokal dan realitas masyarakatnya.
*) Penulis adalah Fery Mulyadi Pane, Mahasiswa Film dan Televisi ISI Surakarta.
